BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latarbelakang
Al-Qur’an terdiri dari 114 surah dan 29 dari surat-surat tersebut
diawali dengan satu huruf atau sekelompok huruf yang dibaca sebagai kelompok
huruf terpisah, oleh mayoritas ahli tafsir disebut sebagai huruf muqatha’ah ada
pula yang menyebutnya sebagai huruf tahajji.
Huruf-huruf ini misterius tidak ada penjelasan yang memuaskan
mengenai artinya walaupun ada juga penjelasan artinya namun tidak didapatkan
alasan tentang kemunculannay di awal-awal surat dalam Al-Qur’an.
Dalam menyikapi huruf-huruf yang muqatha’ah (terputus) tersebut
para ahli tafsir menafsirkan dengan “Allahu a’lamu bi murodihi”tentunya ini
tidak memuaskan banyak pihak. Bagaimanapun ini harus kita pelajari dan kita
bahas secara khusus dalam usaha untuk mencapai hikmahnya.
Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membicarakan tentang
muqatha’ah dalam pembahasan fawatihus al-suwar
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
Pengertian Fawatihus Al- Suwar ?
2.
Apa
Saja Macam-macam Fawatih Al-Suwar ?
3.
Bagaimana
Kedudukan Pembuka Surat Al-Quran ?
4.
Pendapat
Para Ulama tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat ?
5.
Manfaat
mempelajari Fawatihus Al-Suwar ?
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Mengetahui
Pengertian Fawatih Al- Suwar
2.
Mengetahui
Macam-macam Fawatih Al-Suwar
3.
Untuk
Mengetahui Kedudukan Pembuka Surat Al-Quran
4.
Mengetahui
Pendapat Para Ulama tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat
5.
Mengetahui
Manfaat Mempelajari Fawatihus Al-Suwar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Fawatih Al-Suwar.
Kata Fawatih Al-Suwar berasal dari bahasa Arab, sebuah kalimat yang
terdiri dari susunan dua kata, Fawatih dan Al-Suwar. Memahami
ungkapan ini, sebaiknya kita urai terlebih dahulu kepada pencarian makna kata
perkata.
Kata فواتح yang
berarti pembuka adalah jamak taksir dari فاتحة , yang mempunyai arti permulaan, pembukaan,
dan pendahuluan. Sedangkan السور adalah
jamak dari سورة yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu : tingkatan atau
martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi nan indah, susunan sesuatu atas
lainnya yang bertingkat-tingkat. Dari pengertian tersebut maka dapat dipahami
dari segi makna Fawatih Al-Suwar berarti pembuka-pembuka surah yang mengawali
perjalanan teks-teks setiap surah.[1]
B.
Macam-macam
Fawatih Al-Suwar
Di antara ciri-ciri surat-surat Makkiyah adalah surat-suratnya yang
dimulai dengan huruf-huruf potongan (muqatta’ah) atau pembukaan-pembukaan surat
( fawatih al-suwar). Pembukaan-pembukaan surat ini dapat dikategorikan kepada
beberapa bentuk fawatih al-suwar di dalam Al-Qur’an dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a.
Bentuk
yang terdiri dari satu huruf, bentuk ini terdapat pada tiga surat yaitu : surat
Sad [38],yang diawali huruf shad, Surat Qaf [50] yang diawali huruf qaf, surat
Al-Qalam [68], yang diawali huruf nun.
b.
Bentuk
yang terdiri dari dua huruf. Bentuk ini terdapat pada sepuluh surat. Tujuh di
antaranya disebut hawamim yaitu surat-surat yang dimulai dengan
huruf Ha dan Mim. Surat-suratnya adalah
: Surat Al-Mukmin [40], surat Fushshilat [41], surat Asy-Syura [42], surat Az-
Zukhruf [43]: surat Ad-Dukhan [44], surat Al-Jatsiyyah [45], dan surat Al-Ahqaf
[46], yang diawali huruf ha mim; Surat Thaha [20], yang diawali huruf tha ha;
surat An-Naml [27], yang diawali huruf tha sin; surat yaa siin [36], yang
diawali huruf Ya sin.
c.
Pembukaan
surat yang terdiri dari tiga huruf, terdapat pada tiga belas tempat. Enam di
antaranya dengan huruf alif lam mim yaitu surat Al-Baqarah [2], surat Ali imran
[3], surat Al-Ankabut [29], surat Ar-Rum[30],surat Al-luqman [31], surat As-
Sajadah [32], Lima huruf alim lam ra, surat yunus [10], surat hud [11], surat
yusuf [12], surat Ibrahim [14], surat Al-Hijr [15], Dan dua diawali huruf tha
sin mim, terdapat surat Asy-Syuara [26], surat Al-Qashshash [28].
d.
Pembukaan
surat yang terdiri dari empat huruf, yaitu alim lam mim shad pada surat Al-Araf
dan pada surat Al- Ra’d yang diawali huruf alim lam mim ra’.
e.
Pembukaan
surat yang terdiri dari lima huruf hanya satu, dengan kaaf haa yaa’ain shad,
yaitu pada surat Maryam.[2]
Kemudian, fawatihus Al-Suwar atau pembuka-pembuka dari 114 surah-surah
Al-Qur’an itu ada 10 macam, yaitu sebagai berikut:
1.
Pembukaan
dengan pujian atau sanjungan kepada Allah
a.
Memakai
kata Al-Hamdulillah seperti pada Surat: Al-Fatihah (1), Al-An’am (6), Al-Kahfi (18),
Saba (34), Fatir (35).
b.
Memakai
kata Tabaaroka seperti pada surat: Al-Furqon (25), Al Mulk (67)
c.
Memakai
kata Subhaana seperti, pada surat: Al-Isra (27)
d.
Memakai
kata sabbaha seperti pada surat: Al-Hadid (58), Al-Hasyr (59), Al-Shaff (61).
e.
Memakai
kata Yusabbihu seperti pada Surat: Al-Jumu’ah (62), Al-Tagabun (64).
f.
Memakai
kata Sabbihi seperti pada surat : Al-A’la (87).
2.
Pembukaan
dengan huruf-huruf yang terputus-putus( istiftaahu bil huruufi Al- Muqaththa).pembukaan
dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surah dengan memakai 14 huruf dengan
tanpa diulang. Yaitu terdiri dari lima kelompok, kelompok sederhana, terdiri
dari satu huruf (Al-muwahhadah), terdiri dari dua huruf (Al-Mutsanna), terdiri
dari tiga huruf (Al-Mutsallatsatu), terdiri dari empat huruf (Al- Muraaba’ah),
dan terdiri dari lima huruf (Al-Mukhaamasatu).
3.
Pembukaan
dengan Nida atau panggilan itu ada 3 macam:
a.
Panggilan
yang di tunjukan kepada nabi contohnya surah: Al-Ahzab (33), At-Thalaq (65),
Al-Tahrim (66).
b.
Nida
yang ditunjukan kepada kaum mukminin, contoh surah: Al-Maidah (5), Al-Hujurat (49),
Al-Mumtahanah (60).
c.
Nida
yang ditunjukan kepada umat manusia contoh surah:An-Nisa (4), Al-Hajj (22).
Hikmah
dari pembukaan surat Al-Qur’an memakai nida (paggilan) ini adalah untuk
memberikan perhatian, peringatan, baik kepada Nabi Muhammad SAW atau umat
beliau, dan untuk menjadi pedoman atau petunjuk dalam mengarungi laut kehidupan
manusia.
4.
Pembukaan
dengan jumlah khabariyah
Jumlah
khabariyah ini ada 23 surat, antara lain pada surat: Al-Anfal (8), At-Taubah (9),
An-Nahl (16), Al-Anbiya (21), Al-Mu’minun (23), Al-Nur (24), Az-Zumar (39),
Muhammad (47),Al-Fath (48). Al-Qamar (54) dan lainnya.
Hikmah
dari pembukaan surah dengan jumlah ini adalah untuk memperingatkan Nabi
Muhammad SAW dan umat islam agar memperhatikan firman-firman Allah yang
disebutkan sesudah pembukaan itu, serta mengamalkan dan menjadikan sebagai
pedoman.[3]
5.
Pembukaan
dengan wawu Al-Qasam
Wawu
Al-Qasam adalah huruf wawu yang berarti demi menunjukan sumpah. Sebagai berikut
Ash-Shaffat (37), Al-Dzariyat (51), Al-Thur (52), Al-Najm (53), Al-Mursalat
(77), An-Nazi’at (79), dan lainnya,
Hikmah
dengan pembukaan menggunakan sumpah tersebut adalah:
a.
Agar
manusia meneladani sikap tanggung jawab, bahwa kalau berbicara harus benar dan
jujur, dan bila perlu berani ngangkat sumpah.
b.
Agar
dalam bersumpah bagi manusia harus memakai nama Allah. Dzat atau sifat-sifatnya.
c.
Dalam
beberapa sumpah allah dalam Al-Qur’an, memang Allah kadang-kadang memakai
benda-benda angkasa atau pun benda yang ada di bawah, tetapi itu hanya bagi
Allah saja karena Allah yang Maha Agung.
d.
Digunakan
beberapa sumpah benda atau makhluk sebagai sumpah Allah itu agar benda atau
makhluk Allah itu selalu diperhatikan umat manusia. Karena yang termasuk yang
di istimewakan Allah.
6.
Pembukaan
dengan syarat kalimat syarat ini ada pada tujuh surat, yaitu surat Al-Waqi’ah (56),
Al-Munafiqun (63), At-Taqwir (81), Al-Infithar (82), Al- Insyiqaq (84), Az-Zalzalah (99), An-Nashr (110).
7.
Pembukaan
dengan fi’il Amr, atau kata perintah ada pada enam surat, yaitu surat: Al-Jin (72),
Al-Alaq(96), Al-Kafirun (109), Al-ikhlas (112), Al-Falaq (113), An-Nas (114).
Hikmah
dari pembuka surah dalam al quran dalam memakai fi’il amar, untuk memberikan
perhatian, peringatan, dan petunjuk serta pedoman dalam berbagai pranata
kehidupan.
8.
Pembukaan
dengan pertanyaan/ Istifham ada pada enam surat, yaitu surat: An- Naba (78) ,
Ad-Dahru , Al-Ghasyiyah (88), Al-ma’un (107), Al-Insyirah (94), dan Al-Fiil
(105).
9.
Pembukaan
dengan Do’a, ini ada pada tiga surat, yaitu: surat Al-Muthaffifin (83),
Al-Humazah (104), Al-Lahab (111).
Hikmah
pembukaan dengan do’a yakni untuk member perhatian, peringatan dan petunjuk
kepada semua umat manusia.
10.
Pembukaan
dengan Al-Ta’lil, Al-Ta’lil ini hanya ada pada surat Quraisy(106).[4]
C.
Kedudukan
Pembuka Surat Al-Quran
Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat (awail al-suwar) atau
huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat
mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi
dalam memahami dan menafasirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulam pada
pokoknya terbagi dua. Pertama, pertama ulama yang memahaminya sebagai
rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini
sebagai pendapat yang mukhtar(terpilih). Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa
ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ini, berkata:
اِنَّ لِكُلِّ كِتاَبٍ صَفْوَةً وَ صَفْوَةُ هَذَا اْلكِتَابِ حُرُوْفُ
التَّهَجِّي
Artinya: “ sesungguhnya
bagi seiap kitab ada sari pati nya, dan sari pati kitab (Al-Qur’an) ini adalah
huruf-huruf ejaannya”.
Abu bakar juga diriwayatkan pernah berkata:
فِى كُلِّ كِتاَبٍ
سِرٌّوَسِرُّهُ فِى اْلقُرْأَنِ اَوَا ِئلُ السُّوَرِ
Artinya:“ pada setiap kitab ada rahasia, dan rahasianya dalam
Al-Quran adalah permulaan-permulaan suratnya”.
Kedua, pendapat
yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang
mengandung pengertian yang dapat dipahami oleh manusia. Karena itu penganut
pendapat ini memberikan pengertian dan penafsiran kepada huruf-huruf tersebut.[5]
Dengan
keterangan di atas, jelas bahwa pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang
terdiri dari tiga belas bentuk. Huruf yang paling banyak terdapat dalam
pembukaan-pembukaan ini adalah huruf. Alif ( ا ) dan Lam ( ل ), kemudian Mim ( م ), dan seterusnya secara berurutan huruf
Ha ( ح
), Ra’ ( ر ), Sin ( س
) Ta ( ط ),Sad ( ص ) , Ha ( ها ), dan Ya’ ( ي ), Ain ( ع ) dan Qaf ( ق ), dan
akihrnya Kaf ( ك ), dan
Nun ( ن ) .
Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan surat ini dengan tanpa
berulang berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan.
Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan
untuk menunjukkan kepada bangsa arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Quran
tersusun dari huruf-huruf ejaan yang mereka kenal, sebagiannya datang dalam
Al-Quran dalam bentuk satu huruf saja dan lainnya dalam bentuk yang tersusun
dari beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat
menandinginya. Pendapat ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh
Al-Zamakhsyari (wafat 538H) dan Al- Baidhawi (wafat 685 H). pendapat ini
dikuatkan oleh Ibn Taimiyah (wafat 728 H) dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). mereka menguraikan tantangan Al-Quran
terhadap bangsa Arab untuk membuat tandinganya. Al-Quran di turunkan dalam
bahasa mereka sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu membuat kitab yang
menyerupainya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan Al-Quran dan
membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.
Berikut ini
dikemukakan beberapa riwayat dan pendapat ulama:
1.
Artinya:
“Dari Ibn Abbas tentang firman allah: alif lam mim, berkata Ibn Abbas:” aku
Allah lebih mengetahui”, tentang alif lam shad berkata Ibn Abbas: “aku Allah akan
memperinci”, dan tentang alif lam raa berkata Ibn Abbas:” aku Allah melihat”.
(dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Abu Al-Duha).
2.
Artinya:
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah huruf-huruf
al-rahman yang dipisahkan”. (dikeluarkan oleh Ibn Hatim dari jalan Ikrimah).
3.
Artinya:
“ Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’, Ain, Sad, berkata ia: “kaf dari karim
(pemurah), Ha dari Hadin (pemberi petunjuk), Ya, dari Hakim( bijaksana), ‘ Ain
dari ‘Alim (maha mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang benar). ( dikeluarkan
oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair).[6]
4.
“
Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: الم , حمdan ن dan seumpamanya adalah
nama allah yang dipotong-potong”. (dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
5.
“Dari
Al-Saddiy, ia berkata: “ pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama
Tuhan jalla Jalaluh yang dipisah-pisah dalam Al-Quran”.(Dikeluarkan oleh Ibn
Abi Hatim).
6.
“Dari
Ibn Abbas, berkata ia: صسم, الم , ص dan yang seumpamanya adalah sumpah yang
allah bersumpah dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”. (dikeluarkan
oleh ibn jarir dan lainnya dari jalan ali ibn abi talhah).
Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf
itu adalah nama-nama bagi Al-Quran,
seperti Al-Furqan dan Al-Zikir. Pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf
tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana halnya Qasidah
sering diawali dengan kata )baal) بل dan ( laa) لا .
Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan
peringatan-peringatan (tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan (nid’a).
akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam
bahasa Arab, seperti ala) ألا tidaklah) dan ama أما (bukanlah) karena
kata-kata ini termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan.
Sedangkan Al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa
sehingga digunakan alif ( ا )[7]
Sebagai peringatan (tanbih) yang belum
pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.
Dalam hubungan ini sebagian ulama
memandangnya peringatan (tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu
kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada jibril untuk mendengarkan
ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandang sebagai
peringatan(tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya
dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama
kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus
merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sdangkan pandangan yang kedua
adalah lebih kuat karena orang-orang arab yang selalu bertingkah, keras hati
dan enggan mendengarkan kebenaran perlu diberi peringatan (tanbih) agar
perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.
Dikatakan juga bahwa Thaha) طه) dan Yasin( يَس ) berarti hai
laki-laki atau hai Muhammad atau hai manusia. Pendapat lain memandang kedua
Thaha( طه) dan yasin( يَس ) sebagai nama bagi Nabi SAW.
Di samping itu terdapat pula beberapa
penafsiran dan pemahaman yang dilakukan oleh kaum Syi’ah, Sufi, dan Orientalis.
Sebagian ulama Syi’ah telah menyusun huruf-huruf pembukaan surat-surat Al-Quran
dengan mengesampingkan perulangannya menjadi suatu kalimat yang berbunyi:
صِرَ
اطُ ءَلِىٍ حَقُّ نُمْسِكُهُ“ jalan yang ditempuh Ali adalah
kebenaran yang kita pegangi”.
Tampaknya pemahaman ini bertujuan untuk
emperkuat dakwaan mereka bahwa Ali sebagai iman mereka. Karena itu pula,
sebagian ulama sunni( Ahlusunnah) membantahnya dengan menyusun kalimat yang
mengandung pengertian yang memihak kepada Sunni dari huruf-huruf yang
sama:
صَحَّ طَرِ يْقُكَ مَحَ السُّنَّةِ “ Telah benar jalanmu bersama Sunnah”.
Penafsiran seperti ini dilakukan melalui
cara ilmu hisab yang dikenal dengan sebutan “add abi jad”. Ibn Hajar Al-
Asqalani (wafat 582 H) menegaskan bahwa cara pemahaman seperti ini batal dan
tidak dapat dipegangi. Sebab, terdapat riwayat yang sahih dari Ibn Abbas
tentang larangannya menggunakan add abi jad” dan isyaratanya memasukkan yang
demikian kepada sihir serta tidak mempunyai dasar dalam syari’at.[8]
Sebagai seorang tokoh sufi, Muhyiddin Ibn
Arabi (wafat 638 H) mengemukakan penafsiran lain. Shubhi Al- Shalih menguti
keringkasan pendapat Ibn Arabi dari Tafsir Al-Alusi sebagai berikut:
“ ketahuilah bahwa awal-awal surat yang majhullah
(tidak diketahui), hakikatnya hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang dapat
memahami makna dari bentuk-bentuk yang dipahami dengan akal. Allah menjadikan
permulaan-permulaan surat-surat yang tidak diketahui itu pada 29 surat. Ini
adalah kesempurnaan bentuk, (dan kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah,
dan yang ke-29 adalah sumbu falak dan merupakan illat wujudnya dan itulah surat
Ali-Imran ( Alif Lam Mim, Allah). Sekiranya tidak demikian, tentulah tidak yang
28 itu. Jumlahnya, mengulangi huruf-huruf tersebut adalah 78 huruf. Maka yang
delan ini merupakan hakikat Al-Bidh yang terdapat dalam sabda Nabi SAW:
“Al-Iman Bidh wa Sab’un”, dan huruf-huruf ini pada surat-suratnya…”.
Demikianlah penafsiran-penafsiran yang
diberikan Ibn Arabi di samping keterangan- keterangan lanjutannya yang juga
dikutip Shubhi Al-Sahlih dan TM. Hasbi Ash-Shiddieqi.
Sedangkan orientalis Jerman, Noldeke adalah
orang pertama mengemukakan dugaan bahwa huruf-huruf muqatta’ah itu merupakan
penunjukkan nama-nama para pengumpulnya. Misalnya Sin sebagai kependekan dari
nama sahabat Sa’d Ibn Abi Waqaas, Mim adalah huruf depan dari nama al-mughirah,
huruf nuun adalah huruf belakang dari nama Utsman bin Affan, huruf haa (berat)
adalah huruf depan dari nama Abu Hurairah… dan seterusnya. Tapi kemudian
noldeke tampak merasa bahwa pemikirannya itu keliru, lalu ia cabut kembali.
Namun Schwally mengabaikan hal itu dan tidak menyebuut pencabutan itu di dalam
cetakan kedua, lain halnya dua orang orientalis, Buhl dan Hirscfeld, mereka tetap membenarkan
pendapat Noldeke yang pertama itu dengan semangat mempertahankannya.
Kedua-duanya tidak peduli betapa jauh pemikiran itu dari logika yang sehat.
Cukuplah bagi kita mengetahui kenyataan itu dari sikap Blachere yang
memperlihatkan kesimpangsiuran tersebut sehingga tak ada alasan sama sekali
untuk menerima dan menghargai. Blachere bersama Loth dan Bauer menganggap
sangat mustahil kalau orang beriman yang terkenal kezuhudan dan ketakwaannya
seperti, yang disebut nama-namanya oleh Noldeke itu memasukkan unsur-unsur
bukan Al-Qur’an ke dalam kitab suci. Tak seorang pun berani berbuat gegabah
semacam itu kecuali ia yang sangat lemah imannya dan amat tipis keyakinannya.
Blachere berpendapat lebih dari itu, ia mengatakan: “ Bagaimana pun juga
tidaklah masuk akal sama sekali kalau orang-orang yang mempunyai mushaf
sendiri-sendiri itu mengabadikan nama-nama mereka dengan huruf-huruf depan
namanya masing-masing, kendatipun mereka sadar tidak bermaksud selain itu”.
Pada
akhirnya Prof. Blachere terpaksa kembali kepada teori islam sendiri, yaitu
menampung berbagai pendapat mengenai masalah itu kemudian disaring dan
diperbandingkan satu sama lain. Ia sengaja meninggalkan sementara pendapat yang
menurut penilaiannya tidak lebih dari sekedar permainan tak berguna. Ia
nyatakan: “ bahwa kaum muslimin yang bertakwa dan memandang tiap upaya
menebus rahasia awalan surah-surah itu sebagai kegiatan sia-sia, mereka itu
tidak diragukan lagi adalah orang-orang cerdas ddan ahli hikmah”.
D. Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijayah
Pembuka Surat.
Para ulama yang membicarakan masalah ini
ada yang berani menafsirkannya di mana huruf-huruf itu merupakan rahasia yang
hanya Allah sendiri yang mengetahui-Nya.
1. Az-Zamakhsari berkata dalam tafsir Qasysyaf
huruf-huruf ini ada beberapa pendapat yaitu :
a. Merupakan nama surat.
b. Sumpah Allah
c. Supaya menarik perhatian orang yang
mendengarnya
d. Huruf yang dipakai adalah sebanyak separuh
dari keseluruhan huruf-huruf hijaiyah.
2. As-Suyuti
menukilkan pendapat Ibnu Abbas yang berpendapat sebagai berikut:
Diantaranya الم
berarti اناا لله اءلم berarti ( aku Allah yang lebih mengetahui ). Kemudian المص yang berarti اءلم وافصل ( aku Allah, aku mengetahui dan menjelaskan
segala perkara). Sedangkan الر berarti انا ا لله ا رى yang berarti aku melihat. كهيحصyaitu Diambil
dari kaafin, haadin, hakim, alim,
shaddiq juga berarti kanaa, haadin, amii alim, shadiq.
Adh
Dhahak berpendapat bahwa tiga huruf awalan alif laam raa dengan Anallahu a’lamu
wa arfa(Aku Allah lebih mengetahui dan lebih tinggi), dan bersamaan dengan itu Ibn Abbas
menambahkan kepada alif laam raa itu dua huruf haa(ringan) miim dan nuun sehingga dapat dibaca ar-Rahmann
(maha pengasih), tetapi lafadzh ar-rahman itu huruf-hurufnya terpisah-pisah
mengawali berbagai surah.
Dikatakan pendapat hanyalah dugaan belaka. Kemudian As-Suyuti
menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri yang
mengetahuinya.
3.
Al-Quwaibi
mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi, mungkin pada
suatu saat Nabi dalam keadaan sibuk maka allah menyuruh jibril untuk memberikan
perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4.
As-Sayid
Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena nabi senantiasa dalam
keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu.
Rasyid
Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan
kepada orang-orang musyrik mekkah dan ahli kitab madinah. Karena orang-orang
kafir apabila nabi membacakan Al-Qur’an mereka satu sama lain mengajurkan untuk
tidak mendengarkannya.
Disebutkan dalam surat Fushilat ayat 26:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْ اِلهَذَا اْلقُرْأَنِ وَاْلغَوْا
فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ
Artinya: “Dan orang-orang yang kafir berkata: janganlah kamu
mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk
terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan( mereka)”.( Q.S. Fushilat: 26).
5.
Ulama
salaf berpendapat bahwa “ Fawatihus Suwar” telah disusun semenjak Zaman azali
sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari
mendatangkannya seperti Al-Quran.
Oleh karena I’tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari
azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak
berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu.
Huruf-huruf itu dipandang masuk golongan
mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui tafsirnya
Dalam hal ini Prof. Hsbi As-Shiddieqi menegaskan bahwa dibolehkannya
mentakwilkannya huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi penetapan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam pada
itu yang lebih baik kita serahkan saja kepada allah.[9]
E.
Manfaat
Mempelajari Fawatihus Al-Suwar
Banyak sekali manfaat urgensi yang kita dapat dalam mengkaji
FawatihAl-Suwar. Adapun. Sebagian dari manfaatnya sebagai berikut:
Sebagai Tanbih (peringatan) dan dapat memberikan perhatian baik
bagi nabi, maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidupan ini.
Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa
dalam Fawatih Al-Suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia-rahasia
Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya. Sebagai motivasi untuk selalu
mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan cara beriman dan
beramal shaleh dan menambah keyakinan kita bahwa Al-Qur’an itu adalah
benar-benar kalam Allah SWT.
Untuk menghilangkan keraguan terhadap Al-Qur’an terutama bagi kaum
muslimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan
musuh-musuh islam yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad
Saw. Dengan mengkaji Fawatih Al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan
bahasa Al-Qur’an itu sendiri bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah:
Fawatih as-suwar
adalah pembuka-pembuka surat, karena posisinya di awal surat dalam Al-Qu’an. Seluruh
surat dalam Al-Qur’an dibuka dengan sepuluh macam pembukaan tidak ada satu
surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut.
Para ulama
berpendapat bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar itu secara umum telah sedemikian azali maka banyak ulama
yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang
tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut.
Adapun urgensi
mempelajari fawaih as-suwar itu secara pokok adalah bagaimana supaya bertambah
keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah.
B.
Saran
Sebagai umat muslim yang meyakini
rukun iman yang salah satunya iman kepada kitab-kitab Allah, diantaranya
Al-Qur’an merupakan hal yang sangat penting untuk mempelajari ilmu-ilmu
Al-Qur’an yang salah satunya cabangnya adalah Fawatihus Al-Suwar. Karena
semakin dikaji ayat Al-Qur’an itu, maka semakin luas pengetahuan kita. Semoga
makalah ulumul Qur’an tentang Fawatihus Al-Suwar ini dapat menjadi tambahan
referensi untuk mengkaji tentang Fawatihus Al-Suwar.
C.
DAFTAR
PUSTAKA
Djalal, Abdul, Ulumul
Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2009.
Syadali, Ahmad,
dan Rof’i Ahmad , Ulumul Quran I,
Bandung: Pustaka Setia,1997.
Shalih,Shubhi,
Mabahits fi’Ulum Al-Quran, Beirut: Dar Al-Qalam li Al-Malayyin, 1988.
Anwar, Abu, Ulumul
Qur’an, Cet.1, Pekanbaru: AMZAH, 2002.
Anwar, Rosihon,
Ulumul Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
[1] Abdul
Djalal, ulumul Qur’an, (Dunia ilmu: Surabaya,2009),h 173
[2]
Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I, Ulumul Qur’an I, ( Bandung: Pustaka
Setia, 1997), h.185-186
[3]
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Dunia ilmu: Surabaya,2009),h 183
[4]
Rosihan Anwar,Ulumul Qur’an, ( CV Pustaka Setia, 2000) h.135-136.
[5]
Subhi As-Shalih, Mabahits fi ulumil Qur’an, ( Beirut: Dar
al-Syuruq,1993), h 306
[6]
Abu Anwar, Ulumul Qur’an, Cet.1, (Pekanbaru : AMZAH,2002), h.94
[7]
Ahmad syadali dan Ahmad Rof’I, ulumul…,h. 188-191
[8]
Subhi As-Shalih, Mabahits…,h. 307-308
[9]
Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I, Ulumul…,h. 195-198
Casino Finder (SBOB) - Mapyro
BalasHapusCasino Finder (SBOB) is a complete directory for 하남 출장마사지 all the SBOB Casinos in the United States, 순천 출장마사지 Mapyro is a complete 창원 출장마사지 directory of all the 군산 출장샵 SBOB Casinos in the United States, 김해 출장마사지